Hanung Bramantyo, memantau opini dan menerima kritik lewat media sosial

Media sosial kini tak hanya digunakan untuk interaksi kasual, tapi juga lazim dipakai untuk upaya pemasaran; tak terkecuali di pentas film nasional. Banyak film menggelar kampanye di media sosial jauh hari sebelum tayang di layar lebar. Sebetulnya, seberapa besar peran media sosial di dunia film nasional? Dan bagaimana memanfaatkannya?

Poster pun berbincang dengan Hanung Bramantyo, sutradara yang belakangan sedang sibuk menyiapkan “Hijab”, film garapannya yang rencananya tayang pada awal 2015. Hanung yang juga aktif menggunakan Twitter (@Hanungbramantyo) ini bercerita panjang lebar soal peran media sosial dalam aktivitasnya sebagai sutradara.

“Awal menggunakan social media, saya merasa keenakan. Ada ruang untuk saya ngomong, sehingga lepas kontrol, dan akhirnya di-bully,” ujarnya berkisah tentang pengalamannya dirundung saat masa awal menjejakkan kaki di linimasa Twitter.

Berikut ini, wawancara Poster dengan suami Zaskia Mecca yang juga pendiri Dapur Film (rumah produksi dan sanggar kreatif untuk film dan drama):

Sebagai sutradara, bagaimana Anda memanfaatkan media sosial?

Berbagi informasi seputar aktivitas film saya. Tapi itu tidak jadi ukuran film bakal sukses. Ramai di Facebook atau Twitter, belum tentu ramai di bioskop. Justru sebaliknya, kalau ramai di Twitter biasanya di bioskop jeblok. Sementara ramai di bioskop dan enggak ramai di Twitter itu lebih biasa terjadi.

Artinya apa? Memanfaatkan Twitter untuk promosi ya bisa saja. Tapi tidak bisa jadi alat promosi utama. Karena itu, Twitter dan Facebook biasanya saya manfaatkan untuk menyampaikan bahwa “ada film ini” atau “saya lagi membuat film tentang ini”.

“Tapi, Twitter punya kekuatan besar untuk membangun opini.”

Jadi menurut Anda, Twitter tidak cukup kuat pengaruhnya untuk pemasaran (contoh: film)?

Enggak. Buktinya begitu kok. Twitter, dari namanya juga tweet, berkicau. Orang berkicau bisa didengar, bisa juga tidak dihiraukan. Promosi tidak bisa hanya mengandalkan Twitter. Untuk membangun opini saya iya. Kekuatan besar Twitter itu untuk membangun opini.

Misal kasus Florence yang baru-baru ini terjadi. Mahasiswa UGM di Jogja itu di-bully oleh pengguna media sosial, hingga membuat pihak kepolisian bertindak. Itu contoh kuatnya hasil pembentukan opini di social media.

Sementara untuk promosi, misal produk kopi. Tweets tentang itu mungkin hanya terbaca saja. Apakah itu menarik si pembaca untuk membeli atau mengonsumsi produk itu? Belum tentu dan belum bisa diukur.

Contoh lain. Followers saya (di Twitter) lebih dari 350 ribu. Apakah setiap membuat film akan ditonton 350 ribu orang? Ya enggak juga. Itu sudah jadi contoh konkret untuk saya.

Soal opini, bagaimana Anda memanfaatkan keunggulan Twitter yang tadi Anda bahas itu?

Waktu itu film “?” (Tanda Tanya) dibahas di Twitter. Salah satu isunya “Hanung menjelek-jelekkan Islam”. Saat itu saya meng-counter dengan cara bikin kultwit (istilah untuk kicauan berseri atau bersambung, Red.) dan sempat menulis artikel di Facebook yang juga saya share ke Twitter, hingga mendapat banyak respon. Pada titik itu, opini buruk pun bisa diimbangi.

Selain itu juga ada keuntungan lain yang saya manfaatkan lewat Twitter, yaitu memantau opini pengguna lain. Ada yang memuji, mengkritik, menjelek-jelekkan, hingga kultwit tentang film saya. Buat saya itu jadi bahan pantauan menarik serta untuk berhitung dan mengukur juga respon publik terhadap film saya.

Hingga kini tak hanya “Soekarno” bahkan film “?”, “Sang Pencerah”, dan “Catatan Akhir Sekolah” yang saya bikin beberapa tahun lalu pun masih banyak yang mengomentari. Saya memantau dan belajar juga dari beragam opini itu.

“Manfaat menggunakan Twitter adalah bisa memantau opini pengguna lain tentang film-film saya.”

Bagaimana soal opini negatif atau kritik yang disampaikan lewat media sosial?

Kritik itu ibarat membedah organ tubuh dari karya yang dikritik. Biasanya si kreator sendiri tidak bisa melihat itu. Saya tidak bisa melihat seluruh sisi tubuh saya sendiri, maka saya butuh orang lain membantu melihatnya.

Kritik yang bagus adalah saat ia bisa membedah hingga menyadarkan saya, “Anjing! Ternyata guakurang di situ!”

Kritik seperti itu yang ingat. Orang-orang yang memberikannya kadang justru saya telepon dan ajak bergaul. Misal, Chandra Malik (penggiat budaya dan musikus) dan penulis Zen RS (Rahmat Sugito, Red.) yang justru saya kenal karena mengkritik film saya di media sosial. Saya ikuti mereka di Twitter, aktivitasnya apa, lalu saya kirim DM (Direct Message, Red.), “Saya mau ketemu.”

Kritikus seperti mereka relatif terbuka dan mereka tidak merasa bahwa dirinya sedang melukai saya, menjelek-jelekkan saya. Hasilnya kami berteman. Bahkan Zen RS yang mengkritik “Sang Pencerah” justru terlibat jadi peneliti sejarah untuk film “Soekarno”.

Dan setelah berteman pun bukan berarti tidak bebas mengkritik saya. Saya membebaskan dia untuk tetap jadi kritikus film saya. Saya tidak pernah berseberangan dengan orang-orang yang mengkritik saya.

Ada juga kritik yang sekadar mencemooh. Cemooh itu sama seperti pujian. “Oh bagus. Oh keren. Oh jelek. Oh ngebosenin.” Hal begitu saya anggap komentar biasa saja, bukan kritik.

Selain akun @Hanungbramantyo, apakah Anda juga berkicau lewat akun @DapurFilm?

Iya, tapi akun itu dipegang beberapa orang. Saya sendiri, Retno Ratih Damayanti, Fauzan Rizal, dan Haikal. Kadang kami melakukan kultwit sesuka kami di situ, intinya komitmen untuk berbagi ilmu, sharingpengalaman.

Saya biasanya lebih ke soal penyutradaraan. Fauzan Rizal tentang sinematografi. Retno Ratih Damayanti biasanya mengenai kostum. Sementara Haikal banyak sharing tentang pemasaran dan lain-lain.

OK. Terakhir, ada tips menggunakan media sosial versi Hanung Bramantyo?

Hm, di media sosial itu banyak informasi yang bisa kita dapatkan. Jadi ikuti akun-akun yang kamu anggap penting. Akun yang pemikirannya, pendapatnya, tweets-nya memberi value tambahan pada kita.

Lalu jangan keenakan ngomong. Curhat boleh, tapi agak sedikit intelek lah. Karena kita kan berhadapan dengan Followers. Jadi tolong lah dijaga juga attitude-nya.

Dan merangkat 140 karakter di Twitter itu susah. Maka gunakan lah dengan efektif. Twitter bisa jadi tempat latihan jadi orang yang efisien dalam berpikir dan bicara. Di Twitter, personality kamu bisa disimpulkan dari 140 karakter itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *