Attack of the Clones 2: Star Wars Love & Mistery

Please log in or register to like posts.
Poster.co.id
star wars attack of clones

Meneruskan trilogi prekuel dari Star Wars, pada tahun 2002 sineas George Lucas merilis Star Wars: Episode II – Attack of the Clones, yang kembali disutradarai oleh dirinya. Film ini pun melanjutkan benang merah konsep trilogi ini, yaitu asal mula kebangkitan pemerintahan diktator Galactic Empire, sekaligus perjalanan Anakin Skywalker menjadi seorang ksatria Jedi hebat, sebelum ia berubah jadi sosok antagonis Darth Vader di trilogi orisinal Star Wars.

Sedikit melangkah jauh dari Star Wars: Episode I – The Phantom Menace (1999)Attack of the Clones berlatar 10 tahun sejak peristiwa perang di planet Naboo. Di masa ini, timbul gerakan separatisme yang dimotori Count Dooku (Christopher Lee). Gerakan ini membuat Dewan Senat pemerintahan Galactic Republic mempertimbangkan untuk membentuk tentara sendiri. Padmé Amidala (Natalie Portman), mantan ratu planet Naboo yang kini jadi senator, adalah salah satu yang menolak dibentuknya tentara karena lebih mementingkan diplomasi.

Pendirian itu membuat Padmé beberapa kali mendapat ancaman pembunuhan. Melihat itu, pemimpin Senat, Chancellor Palpatine (Ian McDiarmid) menugaskan ksatria Jedi Obi-Wan Kenobi (Ewan McGregor) dan muridnya, Anakin Skywalker (Hayden Christensen), untuk melindungi Padmé. Obi-Wan memutuskan untuk mengikuti sebuah petunjuk misterius untuk mencari dalang ancaman terhadap Padmé. Sementara Anakin ditugaskan Obi-Wan untuk menjaga Padmé, dan mengantarkannya bersembunyi di planet Naboo. Di saat inilah, cinta antara Anakin dan Padmé mulai bersemi, padahal Anakin sebagai ksatria Jedi tidak diperbolehkan untuk memiliki hubungan asmara.

star wars attack of clones - 2
image: themoviedb.org

Di lain pihak, Obi-Wan menemukan fakta mengejutkan tentang planet Kamino, yang mengaku dipesan oleh seorang ksatria Jedi untuk membuat kloning tentara Republic. Padahal pembentukan tentara belum disahkan oleh Senat. Misteri pun bertambah ketika seorang bounty hunter, Jango Fett (Temuera Robinson) muncul dan memancing Obi-Wan ke markas gerakan separatis, yang siap menabuh genderang perang terhadap Republic.

Jika dibandingkan The Phantom Menace, ada peningkatan yang cukup signifikan di film ini. Kisah yang dituturkan tampak sangat relevan, baik sebagai satu film utuh, ataupun posisinya dalam kisah Star Wars secara keseluruhan. Attack of the Clones juga tergolong episode Star Wars yang tak basa-basi dalam memulai ceritanya. Sejak awal, film ini sudah masuk ke plot utamanya tentang misteri di balik percobaan pembunuhan terhadap Padmé yang diduga bermotif politik.

Dalam perkembangannya, film ini memiliki dua jalan cerita secara paralel, yaitu penyelidikan Obi-Wan dan romansa antara Anakin dan Padmé, sampai mereka bertemu lagi di satu titik. Gaya penuturan itu terbilang cukup berhasil dalam membangun intensitas dalam film ini. Di satu sisi, film ini dapat melaju lewat upaya pengungkapan konspirasi politik yang mengitari perseteruan Republic dan separatis.

Di sisi lain, film ini juga memberi porsi seimbang tentang perkembangan karakter Anakin yang masih labil, termasuk cinta terlarangnya dengan Padmé. Bagian ini sedikitnya bisa menyuntikkan unsur emosi yang lebih daripada film sebelumnya, walau sayangnya belum didukung sepenuhnya oleh performa sebagian pemainnya yang masih terlihat kaku.

MEMAKSIMALKAN TEKNOLOGI DIGITAL

image: themoviedb.org

Selebihnya, film ini menampilkan berbagai adegan laga, baik pertarungan, kejar-kejaran, hingga tentu saja pertempuran akbar di bagian klimaks, yang semuanya ditata dengan apik. Hanya saja, film ini sedikit terganjal pada durasinya yang terlalu panjang, akibat dari kisah yang cukup padat ditambahkan dengan adegan-adegan laga yang durasinya juga tergolong panjang.

Meski demikian, bukan berarti sisi laganya membuat film ini jadi tidak menarik. Paling tidak film menghadirkan sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya. Sebut saja adegan sepasukan ksatria Jedi bertempur bersama-sama dengan lightsaber-nya, sesuatu yang tidak ada di film Star Wars lain. Ada pula, adegan Jedi Master Yoda (diisi suara Frank Oz) yang bertubuh mungil bertarung lincah dengan lightsaber, sekalipun lawannya berpostur lebih besar.

Eskalasi adegan laganya juga didukung oleh rancangan visual yang ditampilkan lebih kaya dari film-film Star Wars sebelumnya. Kemajuan teknologi efek visual dan animasi digital benar-benar dipamerkan di film ini. Salah satu yang paling kentara adalah adegan kejar-kejaran sekaligus menjelajah planet metropolitan Coruscant yang kompleks, serta pertarungan pamungkas di planet merah Geonosis yang menggelegar.

Namun, ada kalanya ketergantungan pada teknologi digital yang terlalu banyak itu membuat film ini seakan kehilangan roh. Dalam beberapa adegan, film ini lebih tampak seperti sebuah film animasi atau video game, ketimbang sebuah film Star Wars (terutama trilogi orisinalnya) yang biasanya menampilkan visual yang lebih tangible—karena banyak memakai practical effects. Memang, teknologi canggih membuat visi Lucas untuk Star Wars bisa dituangkan lebih leluasa di film ini, tetapi belum bisa menimbulkan dampak sebesar trilogi orisinal Star Wars yang memang unggul pada masanya.

Meski demikian, sebagai sebuah film laga fantasi, Attack of the Clones termasuk memenuhi syarat untuk jadi sebuah film yang akan mudah menghibur generasi milenium. Film ini cukup straight to the point dari segi cerita, pun memberi perhatian yang besar pada adegan-adegan laga yang ditata secanggih dan seramai mungkin. Cerita dan karakterisasi film ini mungkin belum mencapai level kualitas dari trilogi orisinal Star Wars, tetapi minimal film ini bisa menghibur dengan caranya sendiri.

Last Updated on