Snow White: Film Yang Mengubah Wajah Animasi

Please log in or register to like posts.
Poster.co.id
nonton film snow white-seven-dwarfs

Walt Disney awalnya diolok-olok saat ia mengeluarkan ide untuk membuat sebuah film animasi yang berdurasi lebih dari 80 menit.

Ide untuk membuat animasi berdurasi panjang dianggap “bodoh” pada masa itu. Namun kini film animasi layar lebar justru semakin mendominasi.

Daya tarik Snow White yang luar biasa

image: disneyparks.disney.go.com

Saat Snow White dirilis kembali pada tahun 1944, kritikus meragukan akan ada orang yang mau menontonnya lagi. Tapi kenyataannya jumlah penonton membludak.

Hal ini adalah awal dari “kebiasaan” Disney untuk merilis ulang judul-judul klasik milik mereka.

Premiere film Snow White and The Seven Dwarfs pada tahun 1937 dihadiri oleh selebriti besar seperti Charlie Chaplin dan Clark Gable. Sebuah hal yang tidak biasa mengingat pada tahun itu sedang terjadi krisis “great depression” di Amerika Serikat.

Film yang “menyelamatkan” Disney

nonton film snow white

Snow White juga menjadi pelopor penjualan merchandise yang dilakukan bersamaan saat filmnya diputar. Teknik ini akhirnya diikuti oleh beberapa film animasi sukses lainnya seperti Toy Story.

Memang teknologi yang digunakan film Snow White terkesan primitif, namun pada masa itu film ini termasuk revolusioner.

Snow White menggunakan kamera “multiplane” yang sangat besar, menggunakan gambar dalam berbagai level yang dikontrol oleh beberapa orang dan difilmkan dari atas.

Terlihat melelahkan, namun sangat layak demi sebuah film animasi pertama yang tidak terlihat kaku sama sekali.

Snow White adalah cikal bakal dari franchise Disney Princess yang populer hingga saat ini. Sebut saja karakter seperti Cinderella, Aurora dan Giselle. Semuanya tidak akan ada jika bukan karena Snow White.

Andaikan dulu Snow White gagal maka mungkin perjalanan film animasi dunia akan berubah.

Animator senior, Andrea Deja, berkata “bila Snow White dulu tidak berhasil, maka Disney akan hancur karena tidak ada lagi rencana cadangan.”

Bayangkan jika tidak ada Disney maka tidak akan ada Pinocchio atau bahkan Pixar dengan Toy Story-nya.

Last Updated on